Keberpihakan Tuhan Kepada Orang Miskin Oleh Maryo Lawalata, S.Si

Pengantar

Menguraikan tema di atas menuntun saya kepada satu pertanyaan mendasar, yaitu siapakah orang miskin[1] ? Penelitian G. Soares Prabhu sebagaimana yang dikutib oleh J.B. Banawiratma mengenai orang miskin dalam Alkitab memperlihatkan bahwa: a) orang miskin merupakan kelompok sosial dengan identitas yang ditentukan bukan oleh sikap religius mereka melainkan oleh situasi sosial mereka. Jadi bukan hanya kemiskinan rohani, melainkan kemiskinan fisik; b) kaum miskin dalam Alkitab juga merupakan kelompok dialektis. Maksudnya situasi mereka ditentukan oleh pertentangan kelompok-kelompok yang bertindak tidak adil dan menyingkirkan mereka; c) orang miskin dalam Alkitab juga adalah kelompok dinamis. Mereka bukanlah korban-korban pasif sejarah. Melalui dan bersama mereka, Allah membentuk sejarah-Nya. Hal lebih terperinci mengenai orang miskin disampaikan oleh A. Pieris yang membuat kategori-kategori orang miskin dalam Alkitab: a) mereka yang secara sosial dikucilkan (karena penyakit); b) mereka  yang secara sosial bergantung pada orang lain (janda dan yatim piatu); c) mereka yang secara religius dibuang (pelacur dan pemungut cukai); d) mereka yang secara kultural ditundukan (kaum perempuan dan anak); e) mereka yang secara fisik cacat (bisu, tuli, buntung kaki, buta); f) mereka yang secara psikologi tersiksa (kerasukan setan); g) mereka yang secara spiritual rendah hati (orang-orang sederhana yang takut akan Allah dan para pendosa yang bertobat[2].

Mengacu kepada uraian Prahbu dan Pieris di atas, maka kenyataan orang miskin yang demikian tidaklah jauh berbeda dengan realitas kemiskinan kita saat. Memang agak sedikit kesulitan untuk mengukur tingkat kemiskinan seseorang, sebab dalam pengalaman observasi selalu menunjukan bahwa masalah kemiskinan mempunyai banyak segi dan dimensi, mulai dari yang bersifat material sampai pada yang bersifat mental, sehingga tidak mudah untuk menentukan tolak ukur yang tepat mengenai kemiskinan. Dengan demikian  juga tidak gampang untuk mengatakan siapa itu orang miskin. Hal ini bukan berarti kita mengalami kesulitan dalam mengukur tingkat kemiskinan masyarakat, berdasarkan human development report yang diterbitkan oleh UNDP (United Nations Development Programme) menggambarkan bahwa kemiskinan nampak dalam: angka pengangguran, angka kematian balita, jumlah orang yang buta huruf, tingginya daya beli, presentasi pendapatan yang harus dikeluarkan, dll. Bahkan orang dikatakan miskin bisa diukur berdasarkan garis kemiskinan yang menunjuk kepada minimnya pendapatan yang diperlukan supaya kebutuhan pokok bisa terpenuhi. Kenyataan ini memberikan kita gambaran saat ini bahwa kenyataan kemiskinan dan atau orang miskin ada disekitar kita bahkan kitapun tergolong didalamnya. Bahkan di Indonesia (juga Maluku) kenyataan kemiskinan merajela dimana-mana, para pengungsi, janda dan yatim-piatu, orang cacat, para pengemis, pemulung, anak jalanan, mereka yang tinggal di bawah kolom-kolom jembatan, termasuk perempuan dan anak, para buruh kasar, pembantu rumah tangga, penjual, mereka yang hak-haknya dirampas, korban penindasan, masyarakat yang  terpencil jauh dari aksesibilitas dan informasi juga komunikasi termasuk transportasi (daerah terpencil) adalah potret kemiskinan saat ini. Sebab kenyataan orang miskin di Alkitab bahkan realitas kehidupan kita memiliki kesamaan, sebab juga menjurus kepada miskin secara fisik, ekonomis, sosial politis dan religius.

Mengapa Tuhan Berpihak Kepada Orang Miskin

Banyak gambaran orang miskin dan kemiskinan tampil dalam Alkitab bahkan hal ini sangat mencolok, dalam Perjanjian Lama (PL) gambar orang miskin sangat dekat dengan Allah. Allah memperhatikan, melindungi dan membela orang miskin dan malang. Terdapat kelompok Anawim, kaum miskin yang hanya mengandalkan Allah saja. Sikap pasrah, sikap mengandalkan dan mempercayakan hidupnya kepada Allah saja, tidak terlepas dari kemiskinan dan penderitaan yang mereka alami. Allah berbelas kasih terhadap orang-orang miskin, orang lemah. Kepada Allah semacam inilah, orang-orang miskin ini menaruh harapan. Keberpihakan Allah yang demikian menjadi nampak jelas dan konkrit dalam kitab-kitab Injil (Perjanjian Baru) lewat inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus. Dalam PB, orang-orang miskin yang dihadapi Yesus adalah mereka yang miskin secara fisik, sosial, ekonomi, politis, dan religius termasuk mereka yang mengalami berbagai penderitaan karena penyakit, juga yang terpnggirkan karena diangap pendosa adalah kelompok terdepan sebagai alamat yang dituju oleh kabar gembira Yesus. Keberpihakan Yesus kepada orang miskin bukan berarti mengabaikan karya penyelamatan Allah yang universal atau milik semua ciptaan-Nya. Allah memihak kepada orang miskin bukan berarti  karena mereka lebih suci, melainkan karena mereka miskin dan menderita. Kemiskinan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan terjadi sebagai bentuk dari sebuah ketidakadilan.

John Hick dalam bukunya Evil and the God of Love mencoba menghubungkan realitas kemiskinan yang dekat sekali dengan penderitaan[3]. Baginya penderitaan sebagai keadaan mental, keadaan pikiran yang sangat mengharapkan atau tergila-gila bahwa situasinya adalah sebaliknya, kemampuan untuk membayangkan alternatif-alternatif dan (dalam diri manusia) kesadaran moral[4]. Gambaran Hick memberikan kesan bahwa kenyataan kemiskinan seringkali hadir bersamaan dengan pederitaan. Mereka yang hidup dalam situasi miskin benar-benar memandangnya sebagai sesuatu yang buruk atau sebagai bentuk ketidakadilan, yang karenanya perlu dirubah dengan mencari alternatif-alternatif untuk mengubah keadaan miskin itu. Keadaan demikian perlu dirubah menjadi keadaan yang benar-benar adil bagi manusia. Keadaan ketimpangan sosial ini mengindikasikan jelas bahwa ada jarak antara yang kaya dan yang miskin, seakan-akan ada sekat yang memisahkan mereka. Keberpihakan Yesus memiliki arti yang fundamental yaitu meniadakan jarak tersebut, sehingga rasa keadilan, kesetaraan dan menjunjung kebersamaan harkat dan martabat akan nampak dalam relasi sosial masyakat termasuk kehidupan beragama (bergereja).

Karenanya kalau kita berbicara mengenai keberpihakan Allah itu berarti kita sedang berbicara mengenai kerajaan Allah bagi orang-orang miskin. Melalui Yesus, orang-orang miskin dan menderita mengalami tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, yakni Allah sedang hadir dan bertindak, sedang menampakan kuasa yang menyelamatkan mereka. Pemakluman Kerajaan Allah merupakan sesuatu yang aktual terjadi sebagai hari dan peristiwa penyelamatan. Hal ini bukan berarti hanya melalui perkara verbal, melainkan sebuah gerakan aktual. Hal ini berarti bahwa orang-orang miskin dan menderita merasakan penyertaan Allah. Allah tidak meninggalkan mereka. Allah berada dalam penderitaan dan keprihatinan mereka dan dalam perjumpaan mereka dengan Yesus mereka sedang mengalami perubahan. Pilihan Allah untuk berpihak kepada orang miskin, akhir-akhir ini menjadi bagian penting dari pergumulan gereja. Pilihan tersebut melahirkan imperatif untuk mendahulukan orang miskin (preferential option for the poor). Pilihan mendahulukan orang miskin bukanlah pilihan mengecualikan orang kaya dari rencana penyelamatan Allah. Pilihan mendahulukan orang miskin adalah sikap dan tindakan mengikut Yesus yang memaklumkan Kerajaan Allah. Pemakluman tersebut merupakan undangan untuk siapa saja, agar terjadi persaudaraan di antara semua orang, di mana jurang antara yang kaya dan miskin dijembatani, dimana tidak ada lagi pemeras dan yang diperas, penindas dan yang ditindas, di mana semua orang “makan bersama”.[5] Orang kaya dapat bergembira dan berbahagia menemukan solidaritas Allah sendiri dalam solidaritasnya dengan kaum miskin. Dengan demikian kita dapat mengerti mengapa Allah melalui Yesus memilih dan mendahulukan orang miskin. Dalam orientasi dan kesetiakawanan terhadap orang miskinlah persaudaraan semua orang dibangun. Pilihan kita mendahulukan orang miskin berakar pada Allah sendiri, Allah yang memilih dan menyelamatkan, bukan kekayaan, kuasa atau kekuasaan dan prestasi manusia. Tidak peduli dengan orang miskin sama artinya dengan tidak mempedulikan Allah. Kerananya perjuangan mengatasi kemiskinan merupakan jalan mengkuti rencana Allah melalui Yesus, jalan murid-murid Yesus.

Pilihan di atas cukup menentukan arah dasar bagi hidup gereja. Gereja yang melibatkan diri dalam pilihan cinta mendahulukan orang miskin dapat disebut gereja kaum miskin. Banawiratma dan Muller menggambarkan gereja kaum miskin dari dua sisi mata uang. Yang pertama adalah hubungan dengan Allah yang menampakan kuasa dan belas kasih-Nya yang menyelamatkan melalui Yesus Kristus (segi kristologi). Yang kedua, dari hubungannya dengan kaum miskin (ekonimi, politis, kultural), dua segi ini sangat menentukan apakah gereja sungguh hidup sebagai gereja kaum miskin ataukah tidak.[6] Sejalan dengan hal itu, Hendriks pun menegaskan bahwa menjadi gereja berarti harus tetap konsisten dan konsekuen berjalan pada jalan Yesus, kepala gereja. Jalan itu adalah jalan salib, suatu jalan dimana kedalaman hubungan dengan Allah dan kekentalan solidaritas dengan mereka yang menderita (miskin) berpadu. Kita tidak dapat menekankan yang satu dan mengabaikan yang lain.[7] Karena itu pilihan menjadi miskin hanyalah menjadi pengikut Yesus yang benar sejauh juga merupakan pemihakan gereja kepada kaum miskin.[8]

Bagaimana Dengan Orang Kaya

Hal penting yang mesti digarisbawahi adalah keberpihakan kepada orang miskin bukan berarti mengecualikan orang kaya dalam karya penyelamatan Allah yang universal itu. Malahan pilihan kepada orang miskin adalah suatu undangan untuk siapa saja dengan tujuan untuk mendatangkan persaudaraan diantara semua orang. Kepentingannya adalah jurang antara si kaya dan miskin dapat terjembatani. Memang benar, adalah hal yang ironis bahwa apabila kita kaya dengan kelimpahan harta milik, namun pada sisi yag lain, masih banyak saudara-saudara kita yang miskin, bukankah kenyataan ini memperlihatkan kesenjangan sosial diantara kita. hal ini juga bukan berarti orang tidak boleh menjadi kaya atau seolah-olah mengalami kemakmuran atau menjadi kaya adalah hal-hal yang buruk. Tidaklah demikian. Menikmati barang-barang bumi ini sungguh suatu sukacita yang tidak ditolak oleh Alkitab apalagi Allah. Bagi Conrad Boerma, Allah tidak akan berpihak atau melawan orang kaya (tidak masuk dalam Kerajaan Allah) apabila orang menjadi kaya, lantaran orang-orang lain menjadi miskin, apabila kemakmuran yang diperoleh, timbul setelah orang yang lain menjadi korban. Bukankah dalam hal demikian, kekayaannya menjadi perintang bagi jiwa dan keselamatannya.[9] Bahkan perilaku yang demikian bagi Julio de Santa Anna melangagar otoritas Yesus. Menurutnya Yesus memang mengatakan kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu Allah dan Mamon (Mat. 6:24). Kekayaan yang telah didewakan akan merusak hubungan antar manusia, seperti yang dikatakan oleh nabi Amos, “mereka menjual orang benar karena perak dan orang miskin karena sepasang sepatu (Amos 2:6). Uang juga melambangkan keinginan manusia yang mendominasi dan memperbudak, menaklukan dan memerintah, mengontrol dan mengecam. Sebagai suatu simbol uang menunjukan kekuatan yang bertentangan dengan otoritas Yesus.[10]

Tipe orang kaya demikian, yang memandang kekayaan sebagai tujuan hidup bahkan menjadi budak dari kekayaan (uang) tersebut sangat bertentangan dengan kehendak Allah melalui Yesus Kristus. Karena itu, orang kaya akan mendapat bagian dalam keberpihakan karya penyelamatan Allah, hanya terjadi apabila kekayaan dilihat sebagai alat untuk memuliakan Tuhan. Karena itu kekayaan semestilah diperoleh dengan tidak mengorbankan yang lain serta digunakan untuk melayani sesama, sebab kesitulah keberpihakan Allah itu nyata. Karena itu Boerma mengusulkan hal yang penting untuk memerangi ketidakadilan dan mengurangi kesenjangan miskin dan kaya adalah dengan tiga hal: pertama, struktur sosial kemasyarakat harus ditata dengan baik. Aspek keadilan dalam mengelola hidup yang penuh rasa adil diantara semua ciptaan harus nampak dalam perilaku keseharian, kedua, mengusahakan ciri hidup gereja/umat sebagai usaha yang menampakan solidaritas Allah. Orang kaya dan atau kekayaan harus dipakai dan digunakan dalam solidaritas dengan orang miskin. Itu berarti orang kaya tidak seharusnya menciptakan ketergantungan bagi si miskin, namun berusaha bersama mengusahakan kemandirian bersama; ketiga, kehidupan orang kaya dan atau kekayaan harus bergaya hidup yang bisa belajar menjadi miskin. Spiritualitas ini penting untuk membangun hidup dalam kebersamaan dan tetap berdiri disamping orang miskin dan menderita dan bukan sebaliknya berada di atas orang miskin dan penderitaan mereka. Ketiga hal ini, menjadi adil, belajar solidaritas, belajar menjadi miskin, adalah kunci hidup dan mesti menjadi gaya hidup orang-orang kaya dengan kekayaan mereka. Sebab hanya dengan begitu karya penyelamatan Allah yang universal yang diperuntukan bagi semua kita tanpa memandang status apapun akan menjadi bagian bersama kita, tanpa ada yang terabaikan. Semoga !!!


[1] tentunya menjelaskannya kita harus berhati-hati dan butuh landasan teologis yang jelas dan masuk akal. Sebab kesalahan kita menguraikannya maka  akan menimbulkan kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin.

[2] J.B. Banawiratma, SJ., 10 Agenda Pastoral Transformatif; Menuju Pemberdayaan Kaum Miskin Dengan Perspektif Adil Gender, HAM dan Lingkungan Hidup, (Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2002), hal. 22-23.

[3] Sedikit berbeda dengan John Hick, A. Pieris tidak serta merta melihat kemiskinan sebagai bentuk penderitaan. Baginya kemiskinan adalah sesuatu yang dwi-arti, artinya ia membedakan antara kemiskinan sukarela dan kemiskinan yang dipaksakan.  Menurutnya kemiskinan sukarela adalah bentuk kerelaan untuk meninggalkan harta dan keluarganya. Kemiskinan yang demikian tidak dipandang sebagai bentuk penderitaan, melainkan sebuah kebajikan. Sehingga keprihatinan utamanya adalah bukanlah pengahapusan kemiskinan, melainkan perjuangan melawan Mamon. Sebab hal inipun dipraktekan oleh para biarawan maupun masyarakat biasa. Tentang pendapat ini bisa dilihat dalam, Dr. A. A. Yewangoe, Theologia Crusis Di Asia, (Jakarta, BPK. Gunung Mulia 1996), hlm 14-15.

[4] John Hick, Evil and the God of Love, (Glasgow, 1977), hlm. 354. Sebagaimana yang dikutib oleh Dr. A. A. Yewangoe, Theologia Crusis di Asia, (Jakarta, BPK. Gunung Mulia, 1996), hlm 13.

[5] B.J. Banawiratma dan S.J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu; Kemiskinan sebagai Tantangan Hidup Beriman, (Yogyakarta, Penerbit  Kanisius, 1993), hlm 136.

[6] Ibid, hlm. 137.

[7] Lihat I. W. J. Hendriks, Jabatan Pendeta Dan Spiritualitas Pendeta GPM, Perspektif Teologis-Biblis, dalam makalah yang disampaikan dalam seminar sehari menjelang HUT Fakultas Filsafat UKIM, di Hotel Amans, Ambon.

[8] Aloysius Pieris, Berteologi Dalam Konteks Asia, (Yogyakarta, Penerbit.  Kanisius, 1996), hlm. 31-32.

[9] Conrad Boerma Dapatkah Orang Kaya Masuk Kerajaan Surga, (Jakarta: Penerbit BPK Gunung Mulia, 1987), hlm 133-134

[10] Julio de Santa Ana, Good News to the Poor , (Maryknoll/New York: Orbis Books, 1979), hlm. 30


Daftar Pustaka

Banawiratma, J.B dan Muller. J., 1993, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Boerma, Cunrad., 1987, Dapatkah Orang Kaya Masuk Sorga ?, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

de Santa Ana, Julio., Good News to the Poor , Maryknoll/New York: Orbis Books.

Hendriks, I.W.J., 2009, Jabatan Gereja dan Spiritualitas Pendeta GPM, Ambon.

Pieris, Aloysius., Berteologi Dalam Konteks Asia, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Yewangoe A.A., 1996, Theologia Crusis di Asia, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi Kontekstual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s